Jumat, 22 Januari 2010
DoaPenyembuhanNabiSetelah
Do’a Setelah Membacakan Ayat-ayat Ruqyah Syar’i
Caranya: Letakkan telapak tangan pada yang terasa sesuatu atau sakit, lalu bacalah:
١. بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَََََََََ وَ اللهُ يَسْفِيْكَ مِنْ كُل شَيْئٍ يُؤْ ذِيْكَ وَمِنْ كُل شَر نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ واللهُ يَسْفِيْكَ بِسْمِ الله أَرْقِيْكَ.
“Dengan nama Allah aku meruqyahmu dan Allah yang menyembuhkanmu dari segala sesuatu menyakitimu dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad, Allah menyembuhkanmu, bismillah aku meruqyahmu.” ( Bacaan ruqyah Jibril as terhadap Nabi saw., HR. Muslim).
٢. أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمِ رَب الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيْكَ.
“Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb pemilik ‘Arsy yang agung agar Dia menyembuhkanmu.” (Baca 3x) (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud).
٣. بسم الله ×۳ أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأُحَاذِرُ.
“Bismillah (dibaca 3x) Aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan yang aku jumpai (rasakan) dan aku khawatirkan.” (dibaca 7x) (HR. Muslim).
Jika dibacakan kepada orang lain, maka dibaca:
بِسْمِ اللهِ ×٣ أُعُوْذُ بِعِزةِ اللهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرمَا تَجِدُ وَ تُحَاذِرُ.
“Bismillah (dibaca 3x) Aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan yang engkau jumpai (rasakan) dan engkau khawatirkan.” (dibaca 7x) (HR. Muslim).
٤. اللهُم رَب الناسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَ اشْفِ أَنْتَ الشَافِي لاَ شِفَاءَ اِلا شِفَاءُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ شَقَمًا.
“Ya Allah Rabb manusia, hilangkanlah derita dan sembuhkanlah, Engkau yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menimbulkan rasa sakit.” (HR. Bukhari).
٥. بِسْمِ اللهِ الذِيْ لاَ يَضُر مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِى السمَاءِ وَ هُوَ السمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada kemudharatan segala yang ada di langit maupun di bumi, dan Dia Maha Mendengar lagi Mengetahui.”
Awal Peruqyahan dengan Beberapa Adzkar dan Do’a-do’a Perlindungan.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الذِيْ لاَ اِلَهَ اِلا هُوَ الْحَي الْقَيوْم وَأَتُوْبُ ِالَيْهِ .
“Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Iblah selain-Nya yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, aku bertaubat kepada-Nya.” (HR. Muslim)
لاَ اِلَهَ ِالا أَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنيْ كُنْتُ مِنَ الظالِمِيْنَ .
“Tidak ada Illah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim.” (HR. At-Tirmizi dan Hakim, Shahih At-Tirmizi)
يَا حَي يَا قَيوْمُ بِرَ حْمَتِكَ أَسْتَغِيْثْ, أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ عَلَى نَفْسِيْ طَرْفَةً عَيْنِ .
“Wahai zat tang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-Mu, perbaikilah segenap keadaanku dan janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri walaupun sekejap mata.” (HR. Hakim dan Anas bin Malik, Shahihut-Targhib wat-Tarhib)
أَللهُمَ أَعِنا عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ .
“Ya Allah bantulah aku dalam berdzikir, bersyukur, dam beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.” (HR. Al-Hakim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i, Shahih)
أللهُم أَنْتَ رَبيْ لاَ اِلَهَ اِلا أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكلَتُ وَأَنْتَ رَبُ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ, لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوةَ اِلا بِاللهِ. أَعْلَمُ أَن اللهَ عَلَى كُل شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَن اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُل شَيْءٍ عِلْمًا, وَأَحَصَى كُل شَيْءٍ عَدَدًا. اَللهُم اِنِي أَعُوْذُ بِكَ ِمنْ شَر نَفْسِي وَ شَر الشيْطَانِ وَ شِرْكِهِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ كُل شَر دَابةٍ أَنْتَ اَخِدُ بِنَا صِيَتِهَا, اِن رَبيْ عَلَى صِرَاطٍ مُشْتَقِيْمِ .
“Ya Allah Engkaulah Rabb-ku, tidak ada Illah selain Engkau, kepada-Mu-lah aku bertawakkal dan Engkaulah Rabb pemilik’Arsy yang agung. Segala sesuatu atas kehendak-Mu dan apa yang belum menjadi kehendak-Mu tidak terwujud. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah. Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan bahwa ilmu-Nya meliputi segala hal yang ada. Dan segalanya telah dihitung dengan rinci. Ya Allah, aku berlindung dan kejahatan jiwaku sendiri, dari kejahatan setan dengan segala sekutunya dan aku berlindung dari segala yang melata yang Engkau adalah pemegang ubun-ubun mereka. Sungguh Rabbku berada pada shirathal mustaqim.”
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ مِنْ شَر مَا خَلََقَ .
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna dari segala kejahatan para makhluk-Nya.”
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامَةِ مِنْ كُل شَيْطَانٍ وَ هَامةِ وَ مِنْ كُل عَيْنٍ لامةٍ .
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat.”
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ عِقَابِهِ وَ شَر عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشيَاطِيْنِ وَ أَن يَحْضُرُوْنِ .
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna dari murka-Nya dan hukuman-Nya dan dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari gangguan setan dan kedatangannya.”
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ التِيْ لاَ يُجَاوِزُ هُن بَر وَ لاَ فَاجِرٌ مِنْ شَر مَا خَلَقَ ذَرَأَ وَ بَرَأَ وَ مِنْ شَر مَا يَنْزِلُ مِنَ السمَاءِ و من شر ما يَعْرُجُ فيها ومِنْ شر مَا ذَرَأَ فى الأرضِ وَ مِنْ شر مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَر فَتَنِ الليْلِ وَ النهَارِ وَ ِمنْ شَر كُل طَارِقِ اِلا طَارِ قًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنِ .
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna yang tidak dapat ditembus oleh yang baik maupun yang jahat, dari segala kejahatan yang telah Dia ciptakan dan Dia jadikan. Dan dari kejahatan yang naik ke langit dan yang masuk kebumi, dari kejahatan yang turun dari langit dan kejahatan yang keluar dari bumi, dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang datang kecuali yang datang dengan membawa kebaikan. Yaa Rahman.”
أَعُوْذُ بِوَجْهِ اللهِ الْكَرِيْمِ وَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ التِيْ لاَ يُجَاوِزُ هُن بَر وَ لاَ فَاجِرٌ مِنْ شَر مَا يَنْزِلُ مِنَ السمَاءِ وَ مِنْ شَر مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَر مَا ذَرَأَ فِى اْلأَرْضِ وَمِنْ شَر مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَر فِتَنِ الليل و النهار و من شَر طَوَارِقِ الليلِ وَ النهَارِ اِلا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنِ .
“Aku berlindungdengan Wajah Aallah yang mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna yang tidak dapat ditembus oleh yang baik maupun yang jahat, dari kejahatan yang turun dari langit dan yang naik ke sana, dari kejahatan yang masuk ke bumi dan kejahatan yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang datang kecuali yang datang dengan membawa kebaikan. Yaa Rahman.”
الله أكبرُ الله أَعَز مِنْ خَلْقِهِ جَمِيعاﹰ اللهُ أَعَز مِما أَخَافُ وَ أَحْذَرُ أَعوذُ بِاللهِ الذِي لا اله الا هُوَ مُمْسِكُ السمَاوَاتِ السبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى الْأَرْضِ اِلا بِاِذْنِهِ مِنْ كُلِ شَر (عَبْدِكَ ..... / الشَيْطَاِن) وَ جُنُوْدِهِ وَ أَتْبِاعِهِ وَ أَشْيَاعِهِ مِنَ الْجِن وَ اْلاِنْسِ, اَللهُم كُنْ ِليْ جَارًا مِنْ شَرهِ , جَل ثَنَاؤُكَ وَ عَز جَارُكَ وَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَ لاَ اِلَهَ غَيْرُكَ .
“Allahu Akbar, Allah lebih perkasa dari segala makhlukny, Allah lebih dari apa yang aku takuti dan khawatirkan. Aku berlindung kepada Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia yang menahan tujuh lapis langit sehingga tidak jatuh menimpa bumi kecuali jika Dia menghendakinya, dari segala kejahatan (hamba-Mu ….. sebutkan namanya/ setan) dengan segala tentaranya, pengikutnya, dan golongannya dari jenis jin dan manusia. Ya Allah jadilah Engkau sebagai pelindungku dari kejahatannya. Maha Agung sifat-Mu, Maha Mulia kebesaran-Mu, Maha berkah namaMu, dan tidak ada Ilah selain diri-Mu.”
Bacaan Ruqyah Terkena Sihir
a) QS. Al-Fatihah/1:1-7
أعوذ بالله من الشطان الر جيم من همزه و نفخه و نفشه.
b) QS. Al-Baqoroh/2:1-5
بسم الله الر حمن الر حيم
c) QS. Al-Baqoroh/2:102
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
• ••
Bacalah ayat-ayat di atas ini berulang-ulang
d) QS. Al-Baqoroh/2:163-164
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
• • •• •
e) QS. Al-Baqoroh/2:255
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
f) QS. Al-Baqoroh/2:285-286
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
•
g) QS. Ali-Imron/3:18-19
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
•
h) QS. Al-A’raaf/7:54-56
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
• • •
i) QS. Al-A’raaf/7:117-122
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
•
Bacalah ayat ini berulang-ulang terutama ayat tanda garis bawah
j) QS. Yunus/10:81-82
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
• • •
Bacalah berulang-ulang pada ayat yang diberi tanda garis bawah
k) QS. Thoha/20:69
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
…
Bacalah ayat ini berulang-ulang
l) QS. Al-Mukminun/23:115-117
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم ,
•
m) QS. As-Shooffat/37:1-10
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
• • • • •
n) QS. Al-Ahqhof/46:29-32
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•
o) QS. Ar-Rahman/55:33-36
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•
p) QS. Al-Hasr/59:21-24
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•• •
q) QS. Al-Jin/72:1-9
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
• • • •
r) QS. Al-Ikhlas/112:1-4
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•
s) QS. Al-Falaq/113:1-5
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•
Bacalah ayat-ayat ini berulang-ulang terutama ayat bertanda garis bawah.
t) QS. An-Naas/114 :1-6.
أعوذ بالله من الشيطان الر جيم, بسم الله الرحمن الر حيم
•• •• •• • •• • • • ••
Metode Penelitian
Dalam penelitian dan pembahasan pada skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian kasus atau disebut juga studi kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu ogranisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat sempit. Tetapi ditinjau dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam. Adapun kesimpulan penelitian studi kasus hanya berlaku bagi tempat atau lembaga yang diteliti.
Penelitian ini juga dirancang sebagai penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik (utuh), dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiyah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiyah.
Penelitian ini merupakan studi kasus, oleh sebab itu, pelaksanan pengumpulan datanya secara langsung dilakukan di lapangan. Maka dari itu jenis data yang diperlukan dan dihimpun dalam penelitian ini adalah berupa data primer.
2. Objek dan Subjek Penelitian
Penelitian ini adalah studi kasus, maka objeknya, difokuskan kepada dua permasalahan pokok yaitu, pertama: Konsep ruqyah syar’i yang dipraktekkan di Pondok Pesantren Baitussalam. Kedua: Proses pelaksanan ruqyah syar’i yang dipraktek di Pondok Pesantren Baitussalam.
Subjek penelitiannya adalah pasien-pasien ruqyah yang terkena sihir dan kesurupan jin, yang menjadi sumber data primer. Dan mu’alij (orang yang mengobati pasien sakit), beserta anggotanya. Sebagai informan yaitu; orang yang memberi informasi. Dengan pengertian ini maka informan dapat dikatakan sama dengan responden, karena pemberian keterangannya dipancing oleh pihak peneliti.
3. Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan Fenomenologi agama, yaitu, permasalahan dan data hasil penelitian diposisikan, dipahami, dan dideskripsikan berdasarkan perspektif teori fenomenologi agama. Dalam kata lain Kenyataan di lapangan, Islam harus di lihat dan dipahami sebagaimana orang Islam memahaminya. Fenomenologi berprinsip bahwa setiap pengetahuan tentang diri kita dan dunia mestilah dimulai dengan pengalaman manusia yang paling personal. William James menyebutnya empirisme radikal, dan yang real adalah yang dialami Atau pemulihan fenomena, yakni menemui fenomena di mana mereka berlangsung dan di mana mereka mengambil tempat-tempat mereka. Sehubungan dengan ilmu-ilmu keagamaan, ini berarti menemui mereka dalam jiwa-jiwa orang-orang yang beriman, tujuannya adalah untuk memaparkan apa yang telah menampakkan dirinya kepada jiwa-jiwa itu atau dengan kata lain fakta keagamaan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Mengumpulkan data yang diperlukan sebagai bahan pembahasan dan analisis, dalam penelitian ini digunakan metode-metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Interviu (Wawancara)
Wawancara adalah mendapatkan informasi dengan bertanya langsung dengan responden. teknik pengambilan data dengan tanya-jawab lisan secara langsung untuk menyelidiki perasaan, yang dirasakan dan motif, yang dilakukan dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan terutama data yang berkaitan dengan kondisi pasien, berdialog secara langsung atau pun tidak langsung melalui saudara atau teman dekatnya. Mengenai keluhan-keluhan yang dirasakan sesudah dan sebelum di lakukan ruqyah syar’i. Teknik ini juga digunakan untuk menghimpun data tentang: (1) sejarah Baitussalam yang menjadi lokasi penelitian; (2) layanan Baitussalam sebagai tempat meruqyah para pasien; (3) tata cara pelaksanaan ruqyah, yang meliputi tahapan ruqyah dan ayat-ayat yang dibaca dalam memberikan penawaran/pengobatan ruqyah dan amalan-amalan yang harus dilaksanakan pasien setelah proses penyembuhan; (4) keluhan-keluhan yang dirasakan pasien yang minta disembuhkan atau yang dapat tawaran untuk di bantu menghilangkan menyembuhkan dari ganguan jin; (5) hal-hal yang dirasakan ketika dalam proses penyembuhan; (6) alasan pasien memilih Baitussalam sebagai tempat untuk melakuakn proses penyembuhan.
Interviu untuk memperoleh data tentang hal-hal tersebut di atas dilakukan dengan pimpinan praktek yang sekaligus sebagai mu’alij, anggota-anggota praktek, dan pasien mu’alij. Bentuk Interviu yang dilakukan adalah interviu bebas terpimpin; peneliti hanya menyiapkan dan berbekal tema-tema interviu, sementara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dikembangkan dalam proses interviu. Dalam pelaksanaannya, interviu dilakukan dalam gaya percakapan informal. Khusus dalam interviu dengan para pasien, untuk menghindari bias maka sewaktu interviu tidak dilakukan pencatatan, tapi dicatat segera setelah proses interviu selesai.
b. Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Dan digunakan bila penelitian berkenaan dengan prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Teknik ini digunakan, untuk melakuakn cross-check atas data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumen. Teknik ini juga digunakan untuk memperoleh data yang tidak terekam melalui wawancara dan dokumentasi, seperti keadaan lingkungan fisik di Baitussalam, fasilitas di baitussalam, kondisi fisik pasien ketika pertama kali datang di Baitussalam, serta reaksi fisik pasien pada saat menjalani proses penawaran/pengobatan ruqyah. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data ini, diklasifikasi pada observasi berperan serta atau observasi partisipan, yang di digolongkan pada partisifasi aktif dan lengkap.
c. Dokumentasi
Teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal yang sesuai dengan pokok permasalahan penelitian berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang ayat-ayat ruqyah yang dibaca ketika memberikan penawaran /pengobatan pada pasien, nama dan asal daerah pasien, dan hal-hal yang harus dilakukan setelah pasien menjalani penawaran atau pengobatan.
5. Metode Analisa Data
Analisis data ialah upaya menata secara sistematis catatan hasil interviu, observasi dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti mengenai kasus yang diteliti dan menyajikan sebagai temuan bagi orang lain. Data yang terkumpul pertama-tama disaring, kemudian disusun dalam kategori-kategori, dan saling dihubungkan. Mulai proses inilah penyimpulan di buat. Dengan demikian langkah-langkah analisis data meliputi; penyaringan data, kategorisasi data, saling menghubungkan data, dan penarikan kesimpulan.
Dalam analisa data dengan langkah-langkah tersebut di atas, digunakan metode deskriptif dan analitik. Maksudnya metode deskriptif analitik yaitu, pemecahan masalah yang diselidiki secara teratur dengan menggambarkan atau memaparkan keadaan subyek dan obyek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak (data) sebagaimana adanya. Setelah itu berdasarkan pemecahan masalah secara teratur dan sistematis kemudian diupayakan untuk membangun generalisasi. Guna menghasilkan konstruk-konstruk teoritis mengenai ruqyah syar’i.
Dalam keseluruhan proses analisis data berfikir reflektif, yaitu pola berfikir yang prosesnya monar-mandir antara yang nyata dengan yang abstrak. Kenyataan yang nyata adalah data lapangan dan kenyataan yang abstrak adalah suatu teori. Hal ini berarti berfikir reflektif ialah suatu pola berfikir yang bergerak secara dialektik antara data dan teori untuk mendapatkan suatu konsep abstrak baru berupa suatu kesimpulan terakhir terhadap hasil penelitian.
Landasan Ruqyah Ayar'i Penawar Sisir danKesurupan Jin
1. Iman Kepada Yang Gaib
a. Pengertian
Iman itu berdasarkan bahasa berarti “Pembenaran” dan berdasarkan terminologinya bermakna: “Perkataan lisan yang dibenarkan oleh hati dan diamalkan oleh raga yang bertambah oleh ketaatan dan berkurang oleh maksiat.” Iman juga adalah mengimani segala yang ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra dan akal, yaitu hal-hal yang telah diberitakan tentang Allah SubhanhuWata’ala dan tentang para rasul-Nya.
Sedangkan Ghaib adalah setiap sesuatu yang tidak dapat diindra, baik yang diketahui maupun yang tidak. Dan iman kepada yang ghaib berarti percaya kepada segala sesuatu yang tidak bisa di jangkau oleh panca indra dan tidak bisa dicapai oleh akal biasa, akan tetapi ia diketahui oleh wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. .
Ar-Raghib Al-Asfahany berkata: “Apa saja yang lepas dari jangkauan indra dan pengetahuan manusia adalah ghaib”. Al-Baji berkata: “Ghaib adalah apa yang tidak ada dan apa yang tidak tampak oleh manusia”. Sedangkan jin termasuk “yang ghaib” yang wajib kita imani, karena terdapat banyak dalil, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan eksistensinya.
b. Dasar Keimanan kepada yang Ghaib
Kitab Suci Al-Qur’an yang kita yakini sebagai salah satu dari rukun iman, yang wajib kita yakini tanpa ragu sedikitpun, dan telah memberikan keterangan bahwa beriman kepada makhluk Allah yang ghaib salah satu dari ciri pribadi seorang yang beriman dan bertaqwa pada Allah SubhanahuWata’ala. Percaya kepada yang ghaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu “yang maujud” yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra, karena terbukti adanya Allah, Malaikat-malaikat, Hari akhirat, adanya jin, iblis, syaitan, sihir dan lain sebagainya, sebagaimana Firman Allah;
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib....”. (QS. Al-Baqaroh/2:2-3).
Dalam Al-Qur’an Tafsir wa Bayan pada kalimat “yu’minuuna bilghoibi” dijelaskan, ”membenarkan apa saja yang dikhabarkan oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala tentang adanya surga, neraka, perhitungan, dan hari kiyamat serta semua hal yang serupa dengan itu” ,
Dalam Kitabul Iman karangan Syaikh Azziddan dkk, dikatakan Bahwa, Siapa yang tidak mengimani dari salah satu rukun iman, sama halnya tidak mengimani keseluruhan rukun iman itu sendiri. Na’uzubillahi min zaalik.
Rasulullah Bersabda: “Kunci-kunci ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahui selain Allah. Sesungguhnya di sisi Allah terhadap ilmu tentang kiamat, Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidak ada jiwa (manusia) yang mengetahui apa yang bakal ia peroleh (alami) besok. Dan tidak ada jiwa yang mengetahui di negeri mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Umar, lafadznya Ahmad.
Eksistensi jin yang termasuk “ghaib” dan wajib kita imani banyak di sampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an diantaranya adalah:
“Dia adalah Allah, Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu,…” (QS. Al-Jin/72:26)
“ Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan”. (QS. Al-Ahqaaf/46:29).
“Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri Kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al-An’am/6:130).
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”.(QS. Al-Jin/72:6).
“Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menebus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. (QS. Ar-Rahman/55:33).
“Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,”. (QS. Al-Jin/72:1).
Di dalam As-Sunnah Rasulullah bersabda:
اِنَ الشَيْطَانَ يَجْرِ اِبْنُ اَدَم فِي مَجْرِ الدَام
“Sesungguhnya syaitan (jin kafir) berjalan cepat dari anak Adam di tempat mengalirnya darah”. (HR.Bukhari dan Muslim).
“Jin ada tiga kelompok: Satu kelompok terbang melayang di udara. Satu kelompok lagi berupa ular dan anjing. Dan satu kelompok lagi diam di Lumpur dan berjalan”. (HR. Ath-Thabarani, Al-Hakim dan baihaqi dengan sanad yang sahih, shahih al-Jami’ :3/85)
Abu Sa’ad Al-Khudari ra mengatakan bahwa Rasulullah saw. Berkata kepadaku, “Aku melihatmu sangat menyukai kambing dan tanah yang luas, maka apabila kamu berada di tengah kambing-kambing kamu dan tanah lapangmu sedang waktu shalat sudah datang maka angkatlah suaramu dengan adzan. Karena sesungguhnya tidaklah mendengar gema adzan dari golongan jin maupun manusia kecuali mereka akan menjadi saksi bagi muadzin pada hari kiamat”. (HR.Bukhari).
Ibnu Taimiyah dalam buku Majmu’ Al-Fatawa: 19/10, mengatakan: “Tiada satupun dari golongan-golongan Islam yang tidak percaya atau mengingkari tentang exsistensi jin. Demikian juga mengenai diutusnya Muhammad saw kepada mereka. Dan sebagian besar dari golongan orang-orang kafir, seperti Ahlul kitab, orang-orang musyrik arab lainnya, baik dari keturunan Ham, mayoritas orang Kan’an, Yunani maupun keturunan Yafits, juga mengakui dan menetepkan adanya jin”.
Masih banyak landasan teori Al-Qur’an dan sunnah serta kauliyah Ulama yang meriwayatkan tentang hal-ihwal jin.
c. Mengenal Beberapa Istilah Makhluk Ghaib
1) Iblis,
Iblis adalah oknum jin yang dengki pada Adam, karena ia merasa lebih mulia yang tercipta dari api sedangkan Adam dari tanah, ini di dasari sifat takaburnya, sebagaimana firman Allah:
"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al-A’raaf/7:12).
Golongan jin ini kecewa kepada Allah karena diharuskan sujud kepada Adam. Akhirnya, iblis milih membangkang dengan tidak mentaati perintah Allah, tidak mau sujud pada Adam.
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia dari golongan jin, maka mereka mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil mereka (jin/iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim”. (QS.Al-Kahfi/18:50).
Kehidupan iblis diberi oleh Allah sepanjang zaman, mulai Adam sampai hari kiamat, sebagaimana firman Allah, “Maka keluarlah kamu (iblis) dari surga. Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, dan kutukan-Ku tetap atasmu hingga hari kiamat.” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku hingga hari mereka di bangkitkan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau termasuk yang diberi tangguh hingga hari yang ditentukan (kiamat)”. Iblis menjawab, “Demi kekuasa-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Shaad/38:77-83).
2) Syaitan, tempat, kesukaan, makanannya dan ihwalnya.
Syaitan berasal dari kata syathana yang berarti salah atau sesat dan jauh dari kebenaran. Menurut Ibnu Taimiyah syaitan itu berasal dari jin. Dan syaitan ada dua jenis, yaitu syaitan golongan jin dan syaitan golongan manusia, sebagaimana firman Allah;
“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS. Al-An’am/6:112).
[499] Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.
“ dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”. (QS. An-Naas/114:4-6).
Diantara tempat-tempat syaitan, yaitu; reruntuhan bangunan atau tembok, padang sahara, kotor termasuk WC, menjelang gelap, menetap di rumah-rumah yang ditempati manusia, pertemuan antara sinar matahari dan bayangan, rumah kosong tidak ada penghuni atau kosong dari penghuninya yang tidak pernah dzikrullah, patung, anjing, lisan-lisan yang menimbulkan perselisihan antar manusia, tandus, hutan rimba, tempat sampah, rerumputan yang kering, orang yang sangat marah, seorang tua yang sering bermain dengan setan dan mengunjungi tempat-tempat tinggal dan tempat bermainnya setan. Dan masih banyak tempat lain yang mengiringi kesamaan sifat bawaan dengan jin atau syaitan.
Syaitan dan jin segolongan, mereka makan dan minum, sebagaimana jawaban Nabi ketika di tanya oleh seorang sahabat Abu Hurairah rahasia larangan Nabi membawa tulang dan kotoran binatang kehadapan Nabi. Jawabnya,”Tulang dan kotoran binatang itu merupakan makanan jin”(Shahih Al-Bukhari). Hal ini pun sejalan dengan hadits dalam Sunan Tirmidzi, Shahih Muslim, HR. Muslim dan Ahmad.
3) Qarin
Qarin berasal dari kata qarana yang berarti mendampingi, menemani, menyertai atau membarengi. Jadi qarin berarti pendamping, penyerta, yang membarengi, atau teman. Manusia memiliki dua jenis qarin, yakni berupa malaikat dan yang berupa jin/syaitan. Sebagaimana firman Allah.
“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tipa diri, bersama dengan dia seorang malaikat, pengiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkap dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Dan saat itu berkatalah qarin (malaikat pendampingnya): “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku”. Allah berfirman:”Lemparkanlah olehmu berdua kedalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan selain dari pada Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”. Lalu berkata qarin (pendamping dari jin/syaitan), “Wahai Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. (QS. Qaaf/50:20-27).
2. Ruqyah Syar’i sebagai penawar Sihir
a. Pengertian
Telah di jelaskan di muka pada penegasan judul di antara pengertian Ruqyah Syar’i sebagai penawar, ialah bacaan atau do’a yang terdiri dari ayat Al-Qur’an dan Hadits yang shahih untuk memohon kepada Allah akan kesembuhan orang yang sakit. Dibaca oleh seorang Mu’alij (pengobat) muslim untuk diri sendiri, anak-anak atau keluarganya atau juga orang lain.
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa ruqyah syar’i adalah suatu cara seorang muslim memberikan penawar atau penyembuhan terhadap orang yang terkena sihir dan kesurupan jin dengan cara memohon kepada Allah akan kesembuhan dan melalui wasilah membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan do’a-do’a yang di syariatkan dalam Islam.
b. Landasan Dasar Ruqyah Syar’i sebagai Penawar.
Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang ditegaskan dari Nabi Sholollohu’Alaihi Wassalam berupa ruqyah merupakan penyembuhan yang sangat bermanfaat sekaligus sebagai penawar yang sempurna.
1) Eksisitensi Ruqyah Syar’i Sebagai Penawar dalam Al-Qur’an. Sebagaimana Firman Allah SubhanahuWata’Ala
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS.Al-Isra’/17:82).
“…Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman…”. (Fushilat/41:44)
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.(QS. Yunus/10:57).
2) Eksistensi Ruqyah Syar’i sebagai Penawar dalam Sunnah
Rasulullah pernah meruqyah kedua cucunya, sebagaimana diceritakan Ibnu Abbas radhiallahuanhuma bahwa Rasulullah meruqyah Hasan dan Husein dengan do’a,
أُعِيْدُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَاتِ مِنْ كُلِ شُيْطَانِ وَ هَامَةِ وَ مِنْ كُلِ عَيْنِ لاَمَة
“Saya minta perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna (Al-Qur’an) dari (kejahatan) syaitan dan binatang berbisa, serta dari pandangan yang menimpanya (yang mengakibatkan sakit)”. (HR. Bukhari, no, 3371).
Aisyah radhiallahuanha bercerita, ketika Rasulullah masuk rumahnya, saat itu dia sedang mengobati atau meruqyah seorang wanita. Maka beliau bersabda,
Artinya, “Obatilah ia dengan Al-Qur’an”. (HR. Ibnu Hibban, no. 1419).
Artinya,“Tidak mengapa melakukan ruqyah selagi tidak ada unsur syirik”. (HR. Muslim).
Dalam Shohihu Al-Bukhori diriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra bahwa Nabi SAW bersabda:
Artinya; “Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya”. (HR. Abu Hurairoh).
Dalam lafazh yang lain di sebutkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan Dia turunkan juga penyembuh untuknya, yang hanya diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.” ( HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya (IV/278).
لِكُلِ دَاء دَوَاءٌ فَاِدَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَاءِ بََرَأَ بِاِدْنِ اللهِ
”Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu pasti sembuh dengan seizin Allah.” (HR. Muslim).
3) Ruqyah Syar’i menurut Para Ulama
Al-‘allamah Ibnul Qayyim mengemukakan:
“Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Qur’an, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya”. (Lihat Zaadul Ma’aad(IV/352).
Ia juga mengatakan dalam pengalamannya:
“Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat Al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapat kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaatnya sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat”. (Lihat Zaadul Ma’aad(IV/178) dan Al-Jawabul Kaafi Hal. 23).
Dari landasan dasar diatas bahwa mencari kesembuhan atas penyakit diperintahkan oleh Islam. Seorang yang sakit hendaknya berusaha mendatangi seseorang yang ahli untuk diperiksakan penyakit apa yang dideritanya dan diobati dengan obat-obatan yang diperbolehkan syar’i sebagaimana dikenal dalam ilmu kedokteran untuk gangguan medis, ilmu psikologi untuk gangguan psikis, dan ilmu ruqyah syar’i untuk gangguan sihir, jin dan sejenisnya. Sesungguhnya, Allah Subhanhu wa Ta’ala telah menurunkan penyakit dan pasti menurunkan pula obatnya. Namun Allah tidak memberikan obat dari sesuatu yang telah diharamkan kepada hamba-Nya.
c. Sifat-sifat Seorang Mu’alij (pengobat).
Tidak semua orang bisa mengobati orang kesurupan jin, karena itu seorang Mu’alij harus memiliki sejumlah sifat berikut ini:
1) Harus beraqidah dengan aqidah generasi Salaf yang sholih, yaitu aqidah yang bersih, jernih dan benar.
2) Harus merealisasikan tauhid yang murni dalam ucapan dan perbuatan.
3) Harus berkeyakinan bahwa firman Allah (Kalamullah/Al-Qur’an) punya pengaruh pada jin dan syaitan.
4) Harus mengetahui ihwal jin dan syaitan.
5) Seorang Mu’alij dianjurkan sudah menikah.
6) Harus menjauhi hal-hal yang diharamkan, karena dengan hal-hal yang haram tersebut syaitan akan menyerang manusia.
7) Harus mengetahui pintu-pintu masuk syaitan kedalam diri manusia.
8) Harus mendukung dan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya karena dengan itu dapat mengalahkan syaitan.
9) Harus senantiasa mengingat Allah yang Maha Agung, dzikrullah, merupakan benteng sangat kokoh untuk menghadapi syaitan yang terkutuk. Hal ini tentu tidak akan terwujud kecuali mengetahui dan mengaplikasikan do’a-do’a (dzikir) harian yang di ajarkan oleh Nabi saw, seperti do’a masuk dan keluar rumah, masuk dan keluar WC, masuk dan keluar masjid, dengar petir, hujan, mau makan, minum, mau tidur dan bangun tidur, dan do’a-do’a harian lainnya.
10) Niat yang ikhlas untuk mengobati hanya karena Allah dan yakin bahwa yang mampu menyembuhkan pasien hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’aala. Hal ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal kecuali dari orang-orang yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya.” (HR. Imam Nasa’i dan di hasankan oleh Syaikh Albani dalam shahihnya no.56).
d. Pengobatan
Pengobatan terdiri dari tiga tahapan:
1) Tahapan sebelum Pengobatan;
a) Mempersiapkan keimanan yang benar. Mengeluarkan patung-patung (makhluk yang bernyawa) dari rumah pasien.
b) Mengeluarkan jimat atau penangkal atau tangkal-tangkal yang ada pada penderita dan bakarlah jimat tersebut.
c) Bersihkan tempat dari lagu-lagu atau alat musik.
d) Bersihkan tempat dari pelanggaran terhadap syari’at, seperti laki-laki yang pakai emas atau perempuan yang tidak tertutup auratnya, yang mengisap rokok.
e) Memberikan pelajaran tentang aqidah kepada penderita dan keluarganya hingga hati mereka tidak memiliki ketergantungan kepada selain Allah Suhbhanahu wa Ta’ala.
f) Menjelaskan bahwa cara pengobatan yang akan dilakukan ini tidak sama dengan cara yang ditempuh oleh para tukang sihir dan dukun atau orang pintar, kemudian menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat obat penawar dan rahmat, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah.
g) Mendiagnosis keadaan, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada penderita untuk mengecek gejala yang ada, misalnya:
(1) Apakah kamu melihat sejumlah binatang dalam mimpi?
(2) Berapa binatang yang kamu lihat?
(3) Apakah binatang yang kamu lihat beberapa kali itu selalu binatang yang sama?
(4) Apakah kamu mimpi melihat binatang yang mengejarmu?
(5) Apakah kamu bermimpi dengan mimpi yang menakutkan?
(6) Apakah kamu mimpi seolah-olah kamu akan jatuh dari tempat yang tinggi?
(7) Apakah kamu mimpi seolah-olah kamu berjalan di jalan yang seram?
h) Dianjurkan wudhu sebelum memulai pengobatan dan memerintahkannya juga kepada orang yang bersama Mu’alij.
i) Jika pasien wanita, tidak dimulai sampai ia mengenakan pakaiannya agar tidak terbuka auratnya saat diobati.
j) Tidak mengobati penderita wanita kecuali bersamanya disertai makhrom.
k) Tidak diperkenankan memasukan seseorang tanpa makhrom.
l) Berdo’alah kepada Allah agar menolong dan membantu Mu’alij untuk mengeluarkan jin tersebut.
2) Tahapan pengobatan;
Letakkan tangan di atas kepala penderita dan bacalah ruqyah ditelinganya denga tartil, bacaan ayat Al-Qur’an tersebut adalah: QS. Al-Fatihah/1:1-7, QS. Al-Baqoroh/2:1-5, QS. Al-Baqoroh/2:102 Bacalah ayat-ayat di atas ini berulang-ulang, QS. Al-Baqoroh/2:163-164, QS. Al-Baqoroh/2:255, QS. Al-Baqoroh/2:285-286 , QS. Ali-Imron/3:18-19, QS. Al-A’raaf/7:54-56, QS. Al-A’raaf/7:117-122 Bacalah ayat diatas berulang-ulang, QS. Yunus/10:81-82 Bacalah ayat diatas berulang-ulang, QS. Thoha/20:69 Bacalah ayat diatas ini berulang-ulang, QS. Al-Mukminun/23:115-11 QS.As-Shooffat/37:1-10, QS. Al-Ahqhof/46:29-32, QS. Ar-Rahman/55:33-36 ,QS. Al-Hasr/59:21-24, QS. Al-Ikhlas/112:1-4 . QS. Al-Falaq/113:1-5, QS. An-Naas/114 :1-6.
Disaat membaca atau setelah membacakan ruqyah ini dengan tartil di telinga pasien dan dengan suara keras maka akan terjadi salah satu diantara tiga keadaan:
Keadan pertama: Penderita mengalami kesurupan dan ada jin yang ditugasi mensihir berbicara melalui lidahnya. Keadaan ini, hadapilah jin sebagaimana menghadapi keadaan pasien kesurupan.
Dalam keadaan kesurupan dan kemungkinan pasien dapat bicara, seorang Mu’alij harus menanyakan beberapa pertanyaan kepada jin tersebut:
a). Siapa namamu? Apa agamamu? Kemudian hadapilah dia sesuai dengan agamanya. Jika dia jin non Muslim maka tawarkanlah kepadanya untuk masuk Islam. Jika dia Muslim maka jelaskan kepadanya bahwa apa yang dilakukannya tersebut yaitu menjadi pelayan tukang sihir, bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak dibolehkan.
b). Tanyakan kepadanya dimana letak sihirnya, tetapi janganlah Mu’alij mempercayainya sebelum jelas bagi Mu’alij kebenaran perkataannya. Jika dia mengatakan sihirnya di tempat ini dan itu maka maka kirimlah seseorang untuk mengeluarkannya dari tempat tersebut jika memang ditemukan. Jika tidak ditemukan, berarti dia, berdusta karena jin banyak yang berdusta.
c). Tanyakan kepadanya, apakah dia saja yang ditugasi mengerjakan sihir ataukah ada jin lainnya. Jika ada jin lainnya maka mintalah agar dia mendatangkannya dan hadapilah dia, sebagaimana mestinya.
d). Kadang-kadang jin mengatakan kepada Mu’alij bahwa sifulanlah yang pergi ke tukang sihir dan memintanya untuk mengerjakan sihir ini. Dalam keadaan seperti ini, janganlah mujdah percaya kepada jin tersebut karena dia ingin menimbulkan permusuhan diantara manusia, karena kesaksiannya secara syar’i ditolak karena dia fasiq apalgi kefasiqkannya jelas dengan ia terbukti menjadi pelayan tukang sihrir. Sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” ( QS. Al-Hujarat/49:6).
Jika jin memberitahukan tempat sihir dan telah dikeluarkan, maka bacalah ayat-ayat dibawah ini diatas baskom berisi air:
(Al-A’raaf/7:117-122)
(QS. Yunus/10:81)
(QS. Thaahaa/20:69)
(QS. Al-Baqoroh/2:255)
Ayat ini dibaca atas baskom (tempat air ukuran agak besar) yang berisikan air. Ketika membacanya kenakan udara atau uap yang keluar bersama bacaan ayat AL-Qur’an pada air. Kemudian larutkanlah sihir tersebut di air yang sudah dibacakan ayat-ayat ruqyah tersebut, baik berupa kertas atau wewangian atau benda lainnya, kemudian buanglah air tersebut ketempat yang jauh dari jalan manusia.
Jika jin mengatakan orang yang terkena sihir telah minum air sihir maka tanyakanlah kepada pasien. Jika dia sering merasakan sakit di lambung maka jin itu berkata jujur tetapi jika tidak berarti dia dusta.
Jika ternyata jin itu berkata jujur maka buatlah kesepakatan dengannya agar dia keluar dari jasad pasien dan tidak kembali lagi kepadanya dan katakana bahwa mu’alij akan mengusir Insya Allah. Kemudian bacakan saja Al-Qur’an Surah Al-Baqarah/2 ayat 102 di air. Ayat ini dibaca tujuh kali dan diminumkan kepada yang terkena sihir selama tujuh hari atau lebih setiap pagi dan sore.
Jika jin mengatakan orang yang terkena sihir telah menginjak, melangkahi sihir atau disihir dengan menggunakan salah satu benda bekas pakaiannya seperti rambut, pakaiannya dan lain-lain, maka air yang sudah di bacakan ruqyah tadi bisa untuk di minum ataupun mandi selama tujuh hari di luar kamar mandi. Hal ini dilakukan bisa lebih dari tujuh hari atau sampai sembuh.
Kemudian perintahkanlah jin untuk keluar dan tidak kembali lagi lalu ambillah janji darinya, dengan cara di tuntun lafadznya:
“Aku berjanji kepada Allah (Waullahi) bahwa saya akan keluar dari jasad ini dan saya tidak akan kembali lagi kepadanya, juga tidak akan kembali masuk kesalah seorang dari kaum Muslimin. Jika saya melanggar janji saya, maka saya akan terkena laknat Allah, para malaikat dan semua manusia. Ya Allah jika aku jujur maka mudahkanlah bagiku untuk keluar dan jika aku dusta maka berilah kekuatan kepada orang-orang Mu’min terhadap diriku. Allah menjadi saksi atas apa yang aku ucapkan”. Dan perintahkanlah untuk keluar.
Sepekan kemudian bacakanlah ruqyah kepadanya sekali lagi. Jika tidak merasakan apa-apa maka Alhamdulillah sihirnya telah hilang.
Keadaan kedua: Jika pada waktu dibacakan ruqyah merasa pusing, gemetar, berontak atau pusing berat, tetapi tidak kesurupan maka ulangilah baca ruqyah tersebut sebanyak tiga kali. Jika sudah kesurupan maka hadapilah sebagaimana dalam keadaan pertama. Jika tidak kesurupan tetapi gemetaran dan pusingnya mulai berkurang maka bacakanlah kepadanya ruqyah selama tiga, tujuh atau sembilan hari. Dengan izin Allah ia akan sembuh.
Keadaan ketiga: Pasien tidak merasakan apa-apa pada saat dibacakan ruqyah. Pada saat seperti ini tanyakan tentang gejala-gelajanya sekali lagi. Jika tidak di dapatkan gejalanya maka ia bukan orang yang terkena sihir, juga tidak sakit. Hal ini bisa dicek kembali dengan membaca ruqyah tiga kali. Jika muncul gejalanya dan ketika dibacakan ruqyah berkali-kali tetap tidak merasakan sesuatu hal ini jarang terjadi, maka berilah bacaan ini:
a). Rekaman surah Yasin, Ad Dukhan dan Al-Jin dalam CD atau kaset dan perdengarkan kepada pasien tiga kali setiap hari.
b). Memperbanyak istighfar, seratus kali atau lebih setiap hari.
c). Memperbanyak mengucapkan : لا حَوْلَ وَ لا قُوْةَ اِلا بِالله seratus kali atau lebih setiap hari. Semua ini dilakukan selama satu bulan, kemudian Mu’alij membacakan ruqyah kepadanya dan menghadapinya sebagaimana dua keadaan di atas.
3) Tahapan Setelah Penawaran (Pengobatan)
Bila Allah telah menyembuhkannya melalui usaha Mu’alij dan pasien sudah merasakan sehat maka pujilah Allah yang telah memperkenankan Mu’alij. Tingkatkanlah rasa butuh pasien dan Mu’alij kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada Mu’alij dalam menghadapi suatu keadaan yang lain.
Tahapan ini pasien atau penderita terancam oleh datangnya sihir baru karena kebanyakan orang yang mengerjakan sihir apabila merasa bahwa penderita telah pergi ke seorang Mu’alij untuk berobat maka mereka akan kembali lagi ke tukang sihir untuk menyihir lagi. Oleh sebab itu, penderita/pasien yang baru saja sembuh hendaknya jangan memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun. Dan di samping itu di berikan beberapa pembenteng diri di antaranya :
a) Selalu menjaga shalat lima wkatu secara berjama’ah.
b) Tidak mendengarkan lagu-lagu dan musik.
c) Wudhu sebelum tidur dan membaca ayat Kursi.
d) Membaca basmalah setiap memulai sesuatu.
e) Setiap selesai shalat shubuh membaca 100 kali:
لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير
f) Setiap hari jangan sampai tidak membaca Al-Qur’an sama sekli atau mendengarkannya jika belum bisa membaca, atau mulai belajar membaca.
g) Bergaul dengan orang-orang shalih.
h) Selalu menjaga dzikir-dzikir waktu pagi dan sore.
3. Sihir dalam Islam
a. Pengertian
Sebagaimana pada penegasan judul diawal bahwa sihir secara bahasa ialah sesuatu yang halus dan lembut, sementara menurut syariat, sihir bisa berbentuk jimat, santet, tenung, mejik atau ramuan-ramuan yang mampu memberi pengaruh secara fisik; seperti sakit, membunuh atau memisahkan antara suami istri dan pengaruh secara rohani seperti gelisah bingung atau menghayal. Dan pengaruh terhadap mental seperti gila, stress, atau gangguan jiwa yang lain. Ini berdasarkan kenyataan yang terjadi di masyarakat dan diketahui orang banyak.
b. Dasar Eksistensi Sihir dalam Islam
1) Sihir dalam Al-Qur’an
Di antara landasan dasar tentang sihir dalam Al-Qur’an adalah sebagaimana firman Allah Subhanhu wa Ta’Ala,
“Katakanlah:”Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, Dan dari kejahatan wanita-wanita ahli sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al-Falaq/113:1-5).
An-Naffaatsaat pada ayat ini maksudnya ahli-ahli sihir. Penafsiran ini adalah pendapat dari Al-Hasan Al-Bashri dan diriwayatkan Ath-Thabari dengan sanad yang shahih. Abu-Ubaidah juga menyebutkannya dalam kitab Al-Majaaz. Dia mengatakan, “Ahli-ahli sihir itu menghembus pada buhul-buhul dengan jampi-jampi atau mantra”.
“….Berkarta Musa, “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka dilemparkan, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka”. (QS.Thaha/20:66).
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.68. Kami berkata: "Janganlah kamu takut, Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).69. dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". (QS. Thaha/20:67-69).
“Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan)”. (QS. Al-A’Raaf/7:116)
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.118. karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.120. dan Ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud[554].121. mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,122. "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun". (QS. Al-A’raaf/7:117-122).
[554] Mereka terus bersujud kepada Allah karena meyakini kebenaran seruan Nabi Musa a.s. dan bukan ia ahli sihir sebagai yang mereka duga semula.
“Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata. Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu itu datang kepadamu, sihirkah ini?”, padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan”. (QS.Yunus/10 :76-77).
“ dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahu “(QS. Al-Baqarah/2:102)
[76] Maksudnya: Kitab-Kitab sihir.
[77] Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[78] Para mufassirin berlainan Pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang Malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.
[79] Bermacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.
2) Sihir dalam As-Sunnah
Hadits shahih dari Aisyah ra., dia berkata, “Rasulullah saw. Telah terkena sihir dari seorang Yahudi bernama Lubaid bin Al-A’sham dari Bani Zuraiq. Sayyidah Aisyah ra. Mengatakan, “Hingga Rasulullah saw. Merasa seolah-olah beliau melakukan sesuatu perbuatan padahal beliau tidak melakukan. Dalam keadaan seperti itu beliau selalu berdo’a, berdo’a dan berdo’a.....” (HR. Muslim 2189/43).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah tujuh perbuatan maksiat. “Para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu? Nabi Menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, melakukan pembunuhan yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam peperangan, dan menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang tidak terlintas sama sekali dalam pikirannya akan perbuatan zina”. (HR. Al-Bukhari (Fathu 5/2766), dan Muslim (An-Nawawi 1/277).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mendapat ilmu perbintangan (ramalan), berarti ia sudah mengambil salah satu cabang dari sihir. Semakin banyak yang ia dapatkan, maka semakin banyak sihir yang ia lakukan.” (HR. Ahmad 1/227-311 dan Abu Dawud 3905).
3) Pendapat Para Ulama tentang Sihir
Imam Nawawi, berkata, “Memang benar bahwa sihir itu nyata dan ada, karena Ahlu Sunnah dan Jumhur ulama mengatakan; bahwa sihir itu ada dengan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih dan mashur adanya. Al-Maziri juga mengatakan sihir mempunyai bekas atau pengaruh terhadap orang yang disihir. Ibnul Qayyim Rahimahullah di dalam Bada’i’ul Fawa’id: “… dan kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus di buhul-buhul” dan sekian hadits menunjukkan adanya pengaruh sihir dan bahwa ia merupakan hakikat. Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: Sihir telah demikian menyebar, sangat dikenal di zaman dahulu dan dibicarakan banyak orang tetapi tidak ada sama sekali penolakan yang terdengar dari kalangan shahabat ataupun tabi’in. Dan Ahlu sunnah pun berpendapat, bahwa sihir itu ada dan nyata..(Tafsir Al-Qurthubi, 2/26).
Jadi sihir suatu perbuatan yang ajaib yang dilakukan dengan pesona dan kekuatan ghaib (guna-guna, mantra dan sebagainya) benar-benar nyata keberadaannya dalam Islam.
4. Kesurupan Jin
a. Pengertian
Di samping terdapat pada penegasan judul diatas, Maksud kesurupan disini adalah kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak aneh-aneh. Orang yang terkena ini akan mengalami akan kehilangan ingatan yang diakibatkan dari ketimpangan pada saraf otak. Dan akan di iringi ketimpangan pada gerakan-gerakan sehingga jalan terhuyung-
huyung dan tidak dapat mengendalikan jalannya. Kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran.
b. Landasan Dasar kesurupan Jin dalam Islam
Adanya kesurupan ini telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para ulama pun memastikan bahwa kesurupan itu ada. Serta pengakuan Para Dokter.
1) Dalil Al-Qur’an dan Tafsirnya
Sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,yang artinya:
“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila”. (QS. ASl-Bakhoroh/2:275).
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; “Di dalam ayat ini terdapat dalil atas kesalahan orang yang mengingkari kesurupan jin dan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pengaruh tabi’at atau syaitan tidak dapat masuk pada diri manusia dan tidak dapat mengganggunya menjadi gila” (Tafsir Qurthubu, 3/355).
Imam Ath-Thabari ketika menafsirkan ayat tersebut di atas berkata: “…Allah berfirman kepada orang-orang yang memakan riba yang telah kami sebutkan sifat-sifatnya di dunia, mereka tidak dapat berdiri di akhirat dari kubur mereka kecuali seperti orang yang kemasukan syaitan lantaran terkena penyakit gila, yakni syaitan merusak akalnya di dunia dengan merasukinya hingga kesurupan yakni akibat tekanan penyakit gila” ( Tafsir Qurthubi, 3/101).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang yang memakan riba…” yakni mereka tidak dapat berdiri kecuali seperti orang-orang kesurupan ketika mengalami kesurupan dan kemasukan syetan, yaitu dia berdiri secara tidak normal” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/326).
2) Dalil dari As-Sunnah
Dari Mathar bin Abdur Rahman Al-A’naq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ummu Abban binti Al Wazi’ bin Zari’ bin Amir Al Abdi dari bapaknya bahwa kakeknya Az Zari’ pergi menemui Rasulullah saw dengan membawa anaknya -atau anak saudara perempuannya- yang sedang gila. Kakekku berkata: Ketika kami datang kepada rasulullah saw di Madinah, aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membawa anakku –atau anak perempuanku- yang sedang gila, aku bawa dia kepadamu agar engkau mendo’akannya kepada Allah”. Nabi saw berkata: “Bawalah dia kemari”. Kemudia aku pergi mengambilnya di kenderaan, lalu aku lepas ikatannya dan aku copot pakaian syafarnya kemudian akau ganti dengandua pakaian yang lebih baik dan aku gandeng tangannya hingga ku bawa ke hadapan Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw berkata: “Dekatkanlah kepadaku dan hadapkan penggungnya kepadaku”. Ia (kakekku) berkata: Kemudian Nabi saw mengambil simpul-simpul kainnya dari atas dan membawanya lalu memukul punggungnya hingga aku lihat putih kedua ketiaknya seraya berkata: “keluar musuh Allah, keluarlah musuh Allah”. Kemudian anak itu menatap dengan pandangan yang sehat tidak seperti pandangan sebelumya, lalu Rasulullah saw mendudukkannya di hadapannya seraya berdo’a untuknya kemudian mengusap wajahnya. Setelah do’a Rasulullah saw ini tidak ada seorang pun diantara rombongan yang lebih baik dari akan itu.(HR.Thabrani(Majmu’uz Zawa’id, 9/3)
Dari Shafiyah binti Huyai ra, bahwa Nabi saw bersabda:
Artinya: “Sesunggunya syaitan mengalir pada anak adam seperti aliran darah” (HR. Bukhari 4/282dan Muslim 14/155).
Dari hadits di atas dapat di simpulkan bahwa:
a). Syaitan bisa merasuki manusia hingga menjadi gila.
b). Kesurupan atau kemasukan syaitan/jin ini bisa di obati.
c). Syaitan telah merasuki anak kecil tersebut di atas hingga menjadikan gila. Hal ini nampak jelas dari perkataan Rasulullah SAW: “Keluarlah musuh Allah”. Perintah keluar disampaikan tentunya setelah ada proses masuk sebelumnya.
3) Dalil Aqliyah
Muhammad Al Hamid berkata: Jika jin berjasad halus maka secara akal ataupun agama tidak mustahil bisa masuk ke dalam tubuh manusia, karena yang halus bisa masuk ke yang kasar, seperti udara bisa masuk dalam tubuh kita, atau listrik mengalir di kabel, bahkan seperti air di dalam tanah. (Rududun ‘alaa Abathil, 2/135).
Al Qadhi Abdul Jabbar Al Hamadzani berkata: “Jika benar kesimpulan kami jin berjasad halus seperti udara, maka tidak mustahil baginya untuk masuk ke dalam jasad kita sebagaimana udara dan nafas yang keluar masuk dalam jasad kita. Hal ini tidak mengakibatkan bertumpuknya beberapa subtansi dalam satu wadah, karena hal tersebut tidak akan bertemu kecuali dengan cara beriringan, bukan dengan cara menyatu. Ia masuk ke dalam tubuh kita seperti jasad halus masuk ke dalam amplop” (Akamul Mirjan, hal.108).
4) Pendapat Para Ulama’
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Eksistensi jin dinyatakan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan para ulama Salaf dari ummat ini. Demikiam pula bisa masuknya jin ke dalam jasad manusia, dinyatakan dengan kesepakatan para Imam Ahlus Sunnah, Ia adalah hal yang bisa disaksikan dan dirasakan bagi orang yang mentadabburkannya. Ia (jin) bisa masuk kedalam jasad orang yang kesurupan lalu orang tersebut berbicara dengan pembicaraan yang tidak diketahui dan tidak disadarinya. Bahkkan dipukul dengan pukulan yang sangat keras pun tidak merasakannya”.
Ibnu Qayyim berkata: “kesurupan ada dua: Kesurupan karena ruh-ruh jahat dan rendah dan kesurupan karena tabiat-tabiat yang jelek”.
Begitu juga Ulama lain yang sependapat adanya kesurupan jin seperti Ibnu Hazm,Amer bin Ubaid, Al-Qadhi Badruddin Asy Syibli.
5) Sikap Para Dokter
Seorang ilmuan asal Amerika dan anggota Lembaga Kajian Psikologi Amerika. Carrington, dalam bukunya “Fenomena Spiritual Modern”, berkata tentang kesurupan: “Jelas bahwa kesurupan merupakan fenomena yang tidak dapat di abaikan oleh ilmu pengetahuan, selama ada sejumlah besar hakekat mencengangkan yang mendukungnya. (‘Alamul Jinni wa mala’ikah,hal, 82)
Dr. James Haislon berkata di dalam bukunya “Kesurupan”: ia adalah pengaruh luar biasa yang dilakukan oleh makhluk luar yang berkesadaran pada akal dan jasad seseorang. Kita tidak mungkin menolak kemungkinan terjadinya kesurupan.
Dr. Alexis Carl, mengakui terjadinya kesurupan akibat ruh-ruh jahat yang kemudian kedokteran tidak mampu menyembuhkannya, dan dia peraih nobel di bidang kedokteran dan bedah.
Sejalan dengan pengakuan dokter lain seperti, Dr. Pall dalam bukunya “Analisa Keadaan Tidak Normal Dalam Pengobatan Sakit Akal”. Dr. Karl Eikeland, Dr. Ahmad Shabahi dalam bukunya “Iwadullah”.
c. Sebab-sebab Kesurupan Jin
Paling tidak ada enam penyebab kesurupan jin.
1) Kesurupan dikarenakan Hawa Nafsu
Sudah di maklumi adanya setan dari jin dan setan dari manusia, sebagaimana firman Allah Subhanhu wa Ta’ala,
“Dan demikianlah Kami jadikan tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin”. (QS. Al-An’am/6:112)
Manusia bisa disebut setan, karena dia berada jauh dari kebenaran dan jauh dari ajaran-ajaran Allah setelah dia mengetahuinya. Kemudian ia mengajak kepada kebatilan dan memerangi kebenaran serta menghalangi dakwah ke jalan Allah.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya:
“....Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)....”. (QS. Al-An’am/6:112)
Gejala yang timbul dari orang kesurupan ini adalah:
a). Berpaling dari mengingat Allah
b). Menyenangi kemaksiatan, merindukan kemaksiatan tersebut dan selalu ingin mengajak dan mendorong orang lain kepada kemaksiatan.
c). Mereka bahagia dan senang dengan kemaksiatan.
d). Membenci ketaatan, berpaling dari ketaatan dan tidak mau melakukannya.
e). Membenci kepada dakwah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
f). Kemampuan berfikir dalam keburukan dan sampai pada kemaksiatan.
g). Lemah berfikir tentang kebaikan.
h). Senang berkawan dengan orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan orang yang berbuat keji.
i). Benci berkawan dengan orang-orang yang saleh dan berpaling dari mereka.
j). Selalu ragu-ragu akan kekuasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala.
k). Selalu tidak dapat merasakan ketenangan jika ia menyendiri.
l). Adanya ketakutan yang timbul dari dalam dirinya, nama ia tidak mengetahui penyebabnya.
2) Kesurupan disebabkan oleh Permusuhan
Jenis ini tidak akan terjadi kecuali dikarenakan adanya permusuhan antara setan dengan manusia. Jadi setan selalu berharap dapat merusak manusia apa pun dan bagaimanapun cara yang akan ditempuhnya.
Gejala-gejala utama yang ditimbulkannya adalah:
a). Perasan gelisah yang menyesakkan dada pada malam hari.
b). Senang menyendiri (mengisolasi diri).
c). Sering lupa.
d). Malas.
e). Ketakutan yang tidak wajar.
f). Perasaan benci terhadap orang di sekitarnya, dan banyak keraguan.
g). Sering pusing (bukan pusing biasa yang dikenal secara medis).
h). Tidak bisa tidur sepanjang malam.
i). Mimpi yang menakutkan dan mengejutkan.
3) Kesurupan karena Kedzaliman
Yaitu, jin merasuk seseorang karena ingin menzaliminya tanpa sebab sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang yang menzalimi sebagian lain tanpa sebab. Gejalanya lebih kurang sama dengan yang di sebabkan karena permusuhan setan terhadap manusia.
4) Kesurupan Karena Balas Dendam
Yaitu, seseorang menzalimi jin tanpa sadar, seperti orang tersebut melempar atau membuang air panas di suatu tempat di mana ada jin di tempat tersebut, hingga menyakiti jin tersebut. Oleh sebab itu, jin membalas orang tersebut dengan merasukinya. Atau ketika seseorang jatuh, tanpa sengaja ia telah menimpa dan meyakiti atau membunuhnya.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang kesurupan jin ketubuh manusia, “Ini biasanya terjadi disebabkan kebencian dan pembalasan. Seperti seseorang yang telah menyakiti mereka dengan mengencingi sebagian mereka, menumpahkan air panas dan membunuh mereka. Padahal sebenarnya manusia tidak mengetahuinya. Pada jin terdapat kebodohan dan kezaliman, maka ia segera membalas dendam melebihi apa yang seharusnya”.
5) Kesurupan yang Disebabkan Kerinduan dan Kecintaan
Yaitu, satu jin laki-laki mencintai seorang wanita, atau jin perempuan mencintai seorang pria.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “ Masuknya mereka kepada manusia disebabkan syahwat hawa nafsunya dan kecintaannya, sama seperti yang terjadi antara manusia dengan manusia” .
Gejala-gejala yang ditimbulkannya adalah:
a). Sering bermimpi dalam tidur (yaitu mimpi yang berhubungan badan). Di sini ada beberapa peringatan: mimpi seperti ini terbagi menjadi dua macam:
(1) Mimpi alami yang disebabkan oleh tiga hal:
(a) Baligh, yaitu anak laki-laki atau perempuan yang sampai pada umur baligh, maka mimpi ini menjadi tanda kebalighannya.
(b) Mencurahkan kekuatan yang berlebihan hingga orang itu kelelahan. Sebagiann orang memiliki kekuatan berlebihan secara alami, ketika ia belum menikah, maka kekuatan ini keluar dalam bentuk mimpi. Dan ini merupakan rahmat Allah atas hamba-Nya, hingga meringankan beban kekuatan ini dari mereka.
(c) Banyaknya memikirkan hubungan seksual atau menyaksikan hal-hal yang menimbulkan syahwat. Sebagian pemuda banyak memikirkan hal ini. Jika salah seorang dari mereka melihat hal-hal yang menimbulkan syahwat dan mengingatnya atau memikirkannya sebelum tidur, maka biasanya ia akan bermimpi mengeluarkan mani.
(2) Mimpi yang khusus yang disebabkan oleh jin. Mimpi ini sama sekali berbeda dari apa yang disebut sebelumnya.
(a) Seseorang sering mengeluarkan mani dengan tanpa adanya sebab.
(b) Dalam mimpinya, ia seakan-akan melakukan hubungan intim dengan sempurna persis layaknya hubungan intim antara suami dengan istrinya.
(c) Mimpi seperti itu berlangsung dalam waktu lama, ada yang sampai lima atau sepuluh menit, atau bahkan lebih dari itu.
(d) Jika ia selesai mimpi dan bangun dari tidurnya, ia merasa sangat lelah dan seakan ia baru saja melakukan hubungan intim yang sebenarnya.
(e) Antara mimpi yang satu dengan mimpi yang lain tidak selang lama. Dalam sepekan, bisa tiga atau empat kali atau bahkan setiap hari orang tersebut bermimpi, dan bisa juga setiap tidur ia akan mengeluarkan mani, meski ia tidur tiga atau empat kali dalam sehari.
(f) Susah tidur malam, yaitu tidak bisa tidur kecuali setelah lama bersusah payah.
(g) Mimpi melihat berbagai binatang seperti kucing, anjing, onta, ular, singa, srigala dan tikus.
(h) Cemas, yakni sering bangun diwaktu malam.
(i) Mimpi buruk, yaitu mimpi melihat sesuatu yang mengancamnya lalu ingin berteriak meminta pertolongan tetapi tidak bisa.
(j) Mimpi seolah-olah akan jatuh dari tempat yang tinggi.
(k) Tertawa, menangis atau berteriak pada saat tidur.
(l) Mimpi menyeramkan, melihat hantu, melihat orang aneh, seperti tinggi besar, pendek sekali atau hitam sekali,
(m) Merintih saat tidur, berada di kuburan, tempat sampah atau jalan yang mengerikan.
Adapun gejala lainnya ialah:
(a) Orang yang terkena jin ini merasa seolah-olah ada orang yang tidur di sampingnya, khususnya ketika ia ingin tidur.
(b) Ia merasakan adanya seseorang di atas tempat tidurnya.
(c) Tidak ingin menikah.
(d) Tidak adanya perasaan senang terhadap lawan jenis.
(e) Jika ia orang yang sudah menikah, ia merasa tekanan dari pasangannya, khususnya ketika melakuakn hubungan suami-istri atau senggama.
(f) Tidak adanya keinginan secara alamiyah untuk berhubungan suami istri dan jika hubungan tersebut terjadi, maka ia bukan dari atas keridhoan atau kerelaan, akan tetapi sekedar untuk menyenangkan pasangannya.
(g) Jika terjadi hubungan suami istri, maka tersebut disertai dengan tekanan batin yang menimbulkan kelelahan amat sangat.
b) Sering pusing disaat jaga yang tidak di sebabkan oleh penyakit pada kedua mata, kedua telinga, hidung, gigi, tenggorokan atau lambung.
c) Rasa sakit pada salah satu anggota tubuh dan dokter tidak sanggup mengobatinya.
d) Sering lesu, malas dan linglung pikiran.
6) Kesurupan yang Disebabkan Adanya Panggilan Terhadap Jin.
Syaikh Usamah Al-Audhi berkata, “ Ini adalah jenis paling berbahaya dan paling buruk. Maksudnya salah satu kitab sihir jatuh ke tangan seseorang yang menyenangi percobaan penemuan (suka mencari-cari). Orang ini kemudian mengambil buku tersebur dan membacanya hingga ia menemukan hal-hal yang menarik perhatiannya, seperti dapat membuatnya kuat atau ia mendapat kemudahan dalam melakukan sesuatu. Orang ini tidak mengetahui, bahwa ini adalah jalan sihir dan sihir adalah sebuah kekufuran. Ia lalu membaca sesuatu yang ada di dalam kitab tersebut hingga dapat mendatangkan seorang jin kepadanya dan ia tidak mengetahui atau tidak melihatnya serta tidak mengetahui tanda-tanda kedatangannya. Padahal jin tidak mengenal adanya alasan karena ketidak tahuan. Ia tidak mengenal maaf dan perdamamaian, hingga terjadilah bencana besar berupa kesurupan (masuknya) jin ke tubuhnya.
d. Kapan saja jin atau setan dapat mempengaruhi manusia dan akhirnya dapat masuk tubuhnya;
1) Ketika manusia jauh dari Allah dan mengikuti syahwatnya serta lupa untuk mengingat Allah.
2) Terbiasa dengan kemaksiatan hingga melupakan Allah.
3) Kesedihan mendalam yang membuat seseorang lupa kepada Allah.
4) Ketakutan yang sangat mendalam, sehingga ia lupa untuk mengingat Allah. Ketakutan ada dua macam; Ketakutan jibili dan ketakutan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
a) Ketakutan Jibili adalah: ketakutan alami yang merupakan ketakutan bawaan manusia seperti seseorang yang melihat singa, harimau, beruang atau ular, ini merupakan sesuatu yang biasa. Sebagaimana Firman Allah,
“(Setelah mereka bermumpul) mereka berkata, “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?, Berkarta Musa, “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka dilemparkan, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka, Musa merasa takut dalam hatinya”. (QS.Thaha/20:65-67).
b) Ketakutan dari Allah maksudnya, ketakutan yang berhubungan antara hamba kepada Robbnya dan mengingat-Nya, maka ketakutan ini tidak membahayakannya. Sedangkan ketika ketaatan telah hilang dari diri hamba dan lupa untuk mengingat Allah, maka setan yang menambah-nambahkan ketakutan kepada hamba tersebut, sehingga ia merasa sangat ketakutan. Sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musrik quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran/ 3 :175).
e. Macam-macam Kesurupan Jin
1) Kesurupan Total, yaitu jin menggangu seluruh jasad seperti orang yang mengalami berbagai sumbatan saraf.
2) Kesurupan Sektoral, yaitu jin memegang atau menggangu salah satu anggota badan seperti lengan, kaki, lidah atau kepala.
3) Kesurupan berkepanjangan, yaitu jin terus berada di jasadnya dalam waktu yang lama.
4) Kesurupan sejenak, yaitu tidak lebih dari beberapa menit seperti mimpi buruk atau menakutkan.
Menurut Hasan Ismail, jin dapat mengganggu seseorang disebabkan:
1) Sebab dari diri sendiri
Bila seseorang pernah berinteraksi atau meminta bantuan kepada golongan jin, maka kemungkinan orang tersebut terkena gangguan jin besar sekali. Sebab, setiap jin yang membantu manusia pasti meminta imbalan. Target jin (khususnya jin kafir) tidak lain kecuali hanya ingin menyesatkan manusia dari jalan Allah.
2) Sebab dari orang lain
Jin dapat merasuk kedalam tubuh seseorang disebabkan oleh orang lain misalnya sihir, santet, pellet, guna-guna, tenung, hipnotis, untuk tumbal dan lain sebagainya.
Jin adalah makhluk ghaib yang ada di alam ini. Ia diciptakan oleh Allah dari api (QS. Al-Hijr/15:27). Jin juga makhluk mukallaf (mendapatkan tugas dan kewajiban dari Allah) yaitu untuk mengabdi kepada Allah (QS.Adz-Dzariyat/51:56), sebagaimana manusia (QS.Al-Hijr/15:26), jin juga ada yang sholeh dan ada yang jahat (QS.Al-Jin/72:11), ada yang muslim ada yang kafir (QS.Al-Jin/72:14). Dengan itu iblis diberikan oleh Allah kesempatan hidupnya sampai hari kiamat (QS.Shaad/38:79-81), tugasnya hanya untuk menggoda atau mengganggu atau membisikkan manusia kepada keraguan, kesesatan, firman Allah, Artinya;“Iblis menjawab: “Demi kekuatan engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”(QS.Shaad/38:82-83). Dalam ayat yang lain “Iblis menjawab:
”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur(ta’at)” (QS. Al-A’raaf/7:14-17).
The Big Family Naim
Maksud Ruqyah Penawar Sihir
1. Ruqyah Syar’i
Ruqyah menurut bahasa adalah bacaan atau mantra.[1] Jampi-jampi, suwuk, atau do’a.[2] Sedangkan menurut istilah, ruqyah adalah membaca mantra atau do’a-do’a kepada seseorang atau suatu tempat dengan tujuan untuk menghilangkan gangguan jin.[3] Ruqyah Syar’i adalah bacaan atau do’a yang terdiri dari ayat al-Qur’an dan Hadits yang shahih untuk memohon kepada Allah akan kesembuhan orang yang sakit. Dibaca oleh seorang muslim untuk diri sendiri, anak-anak atau keluarganya atau juga orang lain.[4] Lawan kata dari Ruqyah Syar’i (ruqyah sesuai dengan syari’at[5] islam) adalah Ruqyah sirki (ruqyah yang tidak sesuai dengan syari’at islam/cara-cara musyrik/kerjasama dengan selain Allah).
Jadi Ruqyah Syar’i dalam prakteknya dapat dimaknai secara oprasional ialah suatu upaya penyembuhan atau pengobatan terkena sihir dan kesurupan jin yang dilakukan seorang muslim memohon kepada Allah akan kesembuhan baik untuk dirinya sendiri atau orang lain dengan cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang shahih yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.
2. Penawar
Penawar ialah obat atau menghilangkan daya kekuatan, bias, racun, penyakit, mantra dan lain sebagainya.[6] Pengertian ini sejalan dengan firman Allah Subhanahuwata’alla, yang artinya
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu dari Rabb-mu dan penyembuh (penawar) dari penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus/10:57) [7].
Begitu juga dalam hadits Nabi Sholollahu’alaihi Wassalam;
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً اِلاَ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya”. (HR. Bukhari; 5678)[8]
Terletak pada kata As-Syifa’ (penawar/obat). Jadi pengertian penawar yang dimaksud pada judul penelitian ini adalah menjadikan seseorang yang terkena sihir itu sembuh atau bebas dari terkena sihir dan kemasukan jin.
3. Sihir
Hakikat ilmu sihir secara bahasa Arab memiliki beberapa arti diantaranya: Sihir berarti tipuan-tipuan dan khayalan-khayalan atau gambaran-gambaran yang hakikatnya tidak ada sama sekali, sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh para tukang sulap saja. Sihir berarti sesuatu yang dihasilkan oleh para ahlinya dengan pertolongan atau bantuan syetan-syetan dengan jalan memuaskan maksud syetan, atau dengan jalan menyembah, merendahkan diri atau menghaturkan sesaji yang menjadi syarat-syarat syetan. Sihir juga berarti tiap sesuatu yang halus dan tersembunyi tempat pengambilannya.[9]
Dari gambaran di atas, sihir dapat di maknai secara oprasional adalah suatu perbuatan yang memperalat atau diperalat oleh jin atau manusia untuk suatu perbuatan kejahatan, kedengkian atau semua hal yang tidak di redhoi oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala.
4. Kesurupan Jin
Kesurupan (ash shar’u) ialah ketimpangan yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkannya dan tidak dapat pula menghubungkan antara apa yang telah diucapkan dengan apa yang akan diucapkan. Atau kesurupan yaitu kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran,[10] disebabkan oleh kemasukan (roh halus yang jahat atau syetan).[11]
Jin ialah alam lain, bukan alam manusia dan bukan pula alam malaikat. Antara mereka dan manusia adalah potensi yang serupa, yaitu sama-sama disifati dengan sifat berakal, mengetahui dan punya kemampuan untuk memilih jalan kebaikan dan keburukan. Namun mereka berbeda dengan manusia dalam beberapa hal. Antara lain yang terpenting ialah asal jin yang diciptakan dari api. Mereka dinamai jin, karena tertutup (ijtina’) atau tersembunyi dari pandangan manusia.[12]
Sebagaimana Firman Allah artinya:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. ( QS.Al A’raf/7:27).[13]
Dengan demikian maksud dari pada kesurupan jin dalam penelitian ini adalah masuknya jin dalam arti yang luas dan mencakup iblis dan syetan, kedalam tubuh manusia.
[1] Hasan Bishri. Lc, 53 Penjelasan Lengkap Tentang Ruqyah, Penerbit Ghoib Pustaka,
[2] Hasan Ismail, M.H.M., Ruqyah dalam Shahih Bukhari, Terjemahan M. Yudi Atok SH, penerbit Auliya Press, Solo, Cet. Pertama, tahun 2006, hal. 11
[3] Ibid.
[4] Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aidaan, Ruqyah Syar’iyyah terapi Penyakit Jasmani dan Rohani,Terjemahan ‘Ainun Najib Azhari,Lc, Penerbit At-Tibyan, Solo, tanpa tahun, hal. 34
[5] Muhammad Yunus, H, Prof., Kamus Arab-Indonesia, Penerbit Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Jakarta, Tahun 1973, hal. 195
[6] Poerwadarminta. W.J.S., Kamus Bahasa
[7] Khadim Haramain Asy-Syarifain Raja Fahd Saudi Arabiya, Al-Qur’an dan Terjemahannya , hal. 315
[8] Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Mukhtashor Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’ Terapi Penyakit Rohani, Terjemahan Salafudin Abu Sayyid, Penerbit Arafah, Solo, Cet. Pertama, Tahun 2005, hal. 14
[9] Umar Hasyim, Syetan Sebagai Tertuduh dalam masalah Sihir, Tahayul, Perdukunan, dan Azimat, Penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya, Cet. Kelima, Tahun 1985, hal. 142
[10] Wahid Abdus Salam Bali, Syaikh., Kesurupan Jin dan cara Pengobataanya secara Islami, Terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Penerbit Robbani Press, Jakarta, Cet. Ketiga, Tahun 1992, hal. 81
[11] Poerwadarminta, W.J.S., op.cit., hal. 980
[12] Umar Sulaiman Al-Asyqar, Dr., Alam Makhluk Super Natural, Terjemahan S. Ziyad Abbas, Penerbit CV. Firdaus, Jakarta, Cet. Pertama, Tahun 1997, hal. 1
[13] Al-Qur’an dan Terjemahannya,op. cit. hal 428

